Tiang Monorel Akan Membongkar Monorel Pada Rabu Depan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya mengambil langkah tegas untuk mengakhiri cerita proyek monorel yang mangkrak hampir dua dekade. Gubernur Pramono Anung mengumumkan bahwa pembongkaran tiang monorel akan dimulai pada Rabu pekan depan, 14 Januari 2026, dengan fokus utama di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Proyek ini melibatkan sekitar 98 tiang yang selama ini menjadi simbol kegagalan infrastruktur transportasi massal di ibu kota. Keputusan ini diambil setelah pemilik proyek sebelumnya gagal melaksanakan pembongkaran sendiri, sehingga Pemprov DKI mengambil alih dengan anggaran sekitar Rp100 miliar dari APBD 2026. Langkah ini diharapkan bisa memperbaiki estetika kota sekaligus memperlancar lalu lintas di kawasan bisnis strategis. REVIEW WISATA
Latar Belakang Proyek Monorel Mangkrak: Tiang Monorel Akan Membongkar Monorel Pada Rabu Depan
Proyek monorel Jakarta dimulai sekitar tahun 2000-an dengan visi menghadirkan transportasi elevated yang menghubungkan kawasan seperti Kuningan, Rasuna Said, hingga Semanggi. Namun, berbagai kendala seperti masalah pendanaan, sengketa lahan, dan perubahan regulasi membuat proyek terhenti, meninggalkan jejeran tiang beton yang tak tergunakan. Tiang-tiang ini tidak hanya mengganggu pemandangan, tapi juga menyempitkan ruang jalan dan trotoar, terutama di Rasuna Said yang padat aktivitas.
Setelah bertahun-tahun tertunda, Pemprov DKI memutuskan eksekusi sendiri karena pemilik sebelumnya tidak kunjung membongkar. Pembongkaran ini jadi satu paket dengan penataan ulang jalan, termasuk jalur cepat, lambat, dan trotoar di sisi timur Rasuna Said. Proses diawali di kawasan Kuningan karena dampaknya paling signifikan terhadap lalu lintas harian ribuan kendaraan. Target penyelesaian untuk tahap ini sekitar September 2026, meski durasi aktual bisa mencapai beberapa bulan tergantung kondisi lapangan.
Persiapan dan Rekayasa Lalu Lintas: Tiang Monorel Akan Membongkar Monorel Pada Rabu Depan
Dinas Bina Marga DKI Jakarta telah menyiapkan skenario matang untuk meminimalkan gangguan. Pembongkaran direncanakan dilakukan secara bertahap, idealnya pada malam hari atau jam non-sibuk untuk menghindari kemacetan parah. Dishub DKI akan menerapkan rekayasa lalu lintas, seperti pengalihan arus sementara dan penempatan petugas pengatur di titik kritis.
Koordinasi dengan polisi lalu lintas juga ditingkatkan untuk memastikan keamanan pekerja dan pengguna jalan. Anggaran Rp100 miliar tidak hanya untuk bongkar tiang, tapi juga revitalisasi area pasca-pembongkaran, termasuk perbaikan trotoar dan penanaman pohon untuk estetika lebih baik. Pemprov menegaskan bahwa proses ini tanpa penutupan jalan total, sehingga aktivitas bisnis di sekitar tetap berjalan normal sebisa mungkin.
Dampak dan Rencana Lanjutan
Pembongkaran ini membawa dampak positif jangka panjang: ruang jalan lebih lebar, trotoar lebih nyaman bagi pejalan kaki, serta wajah kota lebih rapi di kawasan elite seperti Kuningan. Namun, tantangan seperti potensi kemacetan sementara dan debu konstruksi tetap menjadi perhatian, sehingga masyarakat diimbau sabar dan ikuti petunjuk rekayasa lalu lintas.
Ke depan, Pemprov berencana melanjutkan pembongkaran tiang di area lain seperti Senayan setelah tahap Rasuna Said selesai. Langkah ini juga membuka peluang penataan infrastruktur baru yang lebih feasible untuk transportasi massal Jakarta.
Kesimpulan
Pembongkaran tiang monorel mulai Rabu pekan depan menjadi tonggak akhir dari proyek mangkrak yang lama mengganggu ibu kota. Dengan persiapan matang dan anggaran memadai, Pemprov DKI menunjukkan komitmen memperbaiki wajah Jakarta tanpa mengabaikan kelancaran aktivitas sehari-hari. Meski proses butuh waktu, hasilnya diharapkan membawa manfaat besar bagi lalu lintas, estetika, dan kenyamanan warga. Langkah ini juga jadi pelajaran bahwa proyek infrastruktur harus dikelola dengan perencanaan realistis untuk hindari pemborosan serupa di masa depan. Jakarta semakin maju, satu tiang demi satu tiang.