Prabowo Siap Pidato di WEF Davos 22 Januari. Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan pidato utama di sesi plenary World Economic Forum (WEF) Annual Meeting di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026. Ini menjadi penampilan pertama Prabowo di forum ekonomi global paling bergengsi sejak dilantik Oktober 2024. Pidato bertema “Indonesia: Kekuatan Baru di Tengah Ketidakpastian Global” dijadwalkan pukul 11.00 waktu setempat (17.00 WIB) dan akan disiarkan langsung melalui kanal resmi WEF serta platform media nasional. Prabowo hadir di tengah situasi dunia yang penuh gejolak—perang dagang AS-Eropa, konflik Timur Tengah, dan ketegangan Arktik—sehingga pidatonya dinanti banyak pihak sebagai sinyal arah kebijakan luar negeri dan ekonomi Indonesia ke depan. MAKNA LAGU
Persiapan dan Isi Pidato yang Diantisipasi: Prabowo Siap Pidato di WEF Davos 22 Januari
Delegasi Indonesia tiba di Davos sejak 19 Januari, dipimpin langsung oleh Prabowo bersama Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Tim sudah lakukan gladi bersih pidato sejak pagi 21 Januari di hotel tempat menginap. Menurut lingkaran dekat presiden, Prabowo akan bicara sekitar 18–20 menit dengan bahasa Inggris, disertai slide visual sederhana tentang capaian satu tahun pemerintahan.
Isi pidato yang bocor ke media mencakup tiga poin utama: pertama, komitmen Indonesia tetap netral dan pro-perdamaian di tengah polarisasi global, termasuk isu Ukraina, Gaza, dan Arktik; kedua, penawaran Indonesia sebagai destinasi investasi aman dengan insentif baru di sektor hilirisasi nikel, energi terbarukan, dan ekonomi digital; ketiga, seruan reformasi tata kelola global agar lebih inklusif, terutama peran negara berkembang di lembaga seperti IMF dan World Bank. Prabowo juga akan singgung visi “Indonesia Emas 2045” dan bagaimana Indonesia siap jadi jembatan antara Global South dan Global North. Pidato ini diharapkan jadi momen diplomasi ekonomi besar pertama setelah kunjungan ke Beijing dan Washington akhir 2025.
Konteks Kehadiran Prabowo di Davos: Prabowo Siap Pidato di WEF Davos 22 Januari
Kehadiran Prabowo di WEF 2026 jadi sorotan karena ini pertama kalinya presiden Indonesia tampil di sesi plenary sejak Joko Widodo tahun 2015. Tahun lalu Indonesia diwakili menteri koordinator, tapi kali ini Prabowo datang langsung di tengah tekanan global yang tinggi. Forum ini juga dihadiri Donald Trump (dalam kunjungan keduanya), Xi Jinping (virtual), Ursula von der Leyen, dan Narendra Modi—sehingga pidato Prabowo akan jadi bagian dari dialog besar soal perdagangan, energi, dan keamanan. Indonesia datang dengan posisi kuat: pertumbuhan ekonomi 5,3% tahun 2025, surplus neraca perdagangan 12 bulan berturut-turut, dan posisi sebagai produsen nikel terbesar dunia. Prabowo juga bawa delegasi bisnis besar dari Adaro, Vale Indonesia, dan beberapa unicorn digital untuk side meeting dengan investor global. Namun tantangan tetap ada: ancaman tarif Trump ke negara berkembang, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan transisi energi yang butuh investasi triliunan dolar.
Reaksi dan Ekspektasi Masyarakat serta Investor
Di dalam negeri, masyarakat menyambut positif kehadiran Prabowo di Davos. Banyak yang berharap pidato ini bisa tarik investasi besar ke proyek hilirisasi, IKN, dan energi hijau. Di kalangan investor global, nama Indonesia sedang naik daun—peringkat ease of doing business naik, dan sovereign rating stabil di BBB. Beberapa CEO multinasional sudah jadwalkan pertemuan bilateral dengan Prabowo di sela forum. Namun ada juga suara kritis: beberapa aktivis lingkungan khawatir pidato Prabowo akan terlalu pro-investasi tambang tanpa cukup jaminan keberlanjutan. Di sisi lain, pengusaha domestik berharap ada sinyal kuat soal kepastian hukum dan insentif pajak agar tidak kalah saing dengan Vietnam atau Malaysia. Pasar saham Indonesia (IHSG) naik 1,2% pada 22 Januari pagi WIB, mencerminkan optimisme investor terhadap pidato tersebut.
Kesimpulan
Pidato Prabowo di WEF Davos 22 Januari 2026 bukan sekadar penampilan formal—ini momen diplomasi ekonomi besar yang bisa tentukan citra Indonesia di mata dunia. Di tengah ketidakpastian global, pesan netralitas, keterbukaan investasi, dan seruan reformasi tata kelola dunia akan jadi sorotan. Keberhasilan pidato ini bisa tarik investasi baru, perkuat posisi tawar Indonesia, dan beri sinyal positif bagi pasar domestik. Semua mata tertuju ke Davos sore ini—Prabowo punya kesempatan besar untuk tunjukkan Indonesia bukan lagi penonton, tapi pemain utama di panggung global. Semoga pidato berjalan lancar dan bawa manfaat nyata bagi rakyat.