Gunung Merapi Sembur Lava Pijar 4 Kali

Gunung Merapi Sembur Lava Pijar 4 Kali

Gunung Merapi Sembur Lava Pijar 4 Kali. Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda aktivitas yang cukup intens di awal Februari 2026. Pada Selasa, 3 Februari 2026, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat gunung api ini meluncurkan guguran lava pijar sebanyak empat kali dalam periode pengamatan pagi hari. Material panas tersebut mengalir ke arah barat daya, tepatnya menuju Sungai Sat dan Sungai Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1,6 kilometer. Kejadian ini terjadi di tengah status Siaga Level III yang masih berlaku sejak lama, mengingatkan warga sekitar untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya sekunder seperti lahar hujan. INFO SAHAM

Detail Kejadian dan Pengamatan Visual: Gunung Merapi Sembur Lava Pijar 4 Kali

Pengamatan visual dari pos-pos pemantauan menunjukkan lontaran lava pijar yang jelas terlihat di malam dan dini hari, terutama ketika kabut tipis menyelimuti lereng. Empat kali guguran tersebut tercatat dengan durasi singkat namun cukup kuat untuk menghasilkan material pijar yang meluncur menuruni lereng. Arah luncur konsisten ke sektor barat daya, mengikuti alur sungai-sungai utama di lereng Merapi seperti Sungai Sat/Putih. Jarak 1,6 km ini masih berada dalam zona perkiraan bahaya yang sudah ditetapkan sejak aktivitas meningkat di akhir 2025.
Selain guguran lava pijar, periode yang sama juga mencatat puluhan gempa guguran dan hybrid, menandakan suplai magma masih aktif di bawah kawah. Visual dari CCTV dan pengamatan langsung memperlihatkan cahaya merah-oranye yang khas dari lava panas, meski kolom abu tidak terlalu signifikan pada kejadian kali ini. Cuaca yang relatif cerah di pagi hari memungkinkan petugas dan masyarakat di pos pengamatan Babadan dan Kaliurang melihat fenomena ini dengan jelas.

Implikasi terhadap Masyarakat dan Status Gunung: Gunung Merapi Sembur Lava Pijar 4 Kali

Aktivitas ini tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan infrastruktur signifikan karena material tidak mencapai radius pemukiman terdekat. Namun, potensi bahaya tetap ada, terutama jika hujan deras turun di puncak. Lahar hujan bisa membawa material vulkanik ke hilir sungai, mengancam desa-desa di lereng barat daya seperti wilayah Cangkringan dan sekitarnya. BPPTKG terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di radius 3–7 km dari puncak, tergantung sektor, sesuai rekomendasi zona bahaya yang sudah ditetapkan sejak lama.
Status Siaga Level III berarti erupsi efusif (guguran lava dan awan panas) masih sangat mungkin terjadi kapan saja. Tren aktivitas Merapi sepanjang Januari hingga awal Februari 2026 menunjukkan pola serupa: guguran lava pijar berulang dengan jarak 1,5–2 km, disertai ratusan gempa vulkanik dangkal setiap harinya. Meski belum ada tanda-tanda erupsi eksplosif besar, fluktuasi ini tetap membuat petugas siaga penuh dan masyarakat diminta tidak lengah.
Pemerintah daerah di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten terus memperbarui peta evakuasi serta memastikan jalur evakuasi dan tempat penampungan darurat siap digunakan jika diperlukan. Sosialisasi kepada warga lereng juga diperkuat, termasuk simulasi evakuasi dan edukasi tentang tanda-tanda bahaya seperti suara gemuruh atau getaran kuat.

Kesimpulan

Guguran lava pijar empat kali pada 3 Februari 2026 menjadi pengingat bahwa Gunung Merapi belum sepenuhnya tenang. Aktivitas vulkanik yang stabil di level tinggi ini menuntut kewaspadaan berkelanjutan dari semua pihak. Meski belum ada ancaman langsung bagi pemukiman, potensi lahar hujan dan awan panas guguran tetap menjadi risiko utama. Dengan pemantauan ketat dari BPPTKG dan kesiapan masyarakat, diharapkan dampak buruk dapat diminimalkan. Saat ini, yang terpenting adalah menjaga disiplin terhadap rekomendasi radius bahaya agar kehidupan di sekitar Merapi tetap aman di tengah aktivitas gunung yang masih dinamis.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *