Danantara Bangun Pabrik Baja 3 Juta Ton Maret. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi mengumumkan pembangunan pabrik baja terintegrasi berkapasitas 3 juta ton per tahun yang akan dimulai konstruksi pada Maret 2026. Proyek ini menjadi salah satu inisiatif strategis pertama Danantara setelah diluncurkan akhir 2025 dengan dana awal US$20 miliar. Pabrik baja tersebut direncanakan berlokasi di kawasan industri Cilegon, Banten, dan ditargetkan beroperasi komersial pada akhir 2028. Tujuan utama proyek ini adalah mengurangi ketergantungan impor baja lembaran panas (hot-rolled coil) yang saat ini mencapai 60–70% dari kebutuhan nasional, sekaligus mendukung hilirisasi industri dan ketahanan energi nasional. REVIEW FILM
Lokasi, Kapasitas, dan Teknologi: Danantara Bangun Pabrik Baja 3 Juta Ton Maret
Pabrik baja terintegrasi ini akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 300 hektare di kawasan Krakatau Steel Cilegon. Kapasitas produksi tahap pertama ditetapkan 3 juta ton per tahun, dengan komposisi produk utama berupa hot-rolled coil, cold-rolled coil, dan plate berkualitas tinggi. Teknologi yang digunakan adalah Electric Arc Furnace (EAF) berbasis daur ulang scrap dan Direct Reduced Iron (DRI) berbahan bakar gas alam, sehingga emisi karbon lebih rendah dibandingkan blast furnace konvensional.
Danantara bekerja sama dengan mitra strategis dari Korea Selatan dan Jepang untuk transfer teknologi serta penyediaan peralatan utama. Total investasi tahap pertama diperkirakan mencapai US$4,2–4,5 miliar, dengan sumber dana berasal dari modal awal Danantara, pinjaman sindikasi bank nasional dan internasional, serta partisipasi investor strategis. Proyek ini juga akan menciptakan lebih dari 8.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung selama masa konstruksi dan operasional.
Dampak Ekonomi dan Strategis: Danantara Bangun Pabrik Baja 3 Juta Ton Maret
Pembangunan pabrik ini diharapkan dapat menghemat devisa impor baja hingga US$1,8–2 miliar per tahun ketika beroperasi penuh. Saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 8–10 juta ton baja lembaran panas setiap tahunnya, terutama dari China, Jepang, dan Korea Selatan. Dengan kapasitas baru ini, proporsi impor diperkirakan bisa turun menjadi di bawah 40% pada 2030.
Secara strategis, pabrik ini akan mendukung kebutuhan baja untuk proyek infrastruktur nasional seperti IKN Nusantara, kereta cepat Jakarta–Surabaya, dan pembangunan smelter hilirisasi nikel serta tembaga. Selain itu, penggunaan teknologi EAF berbasis scrap juga sejalan dengan target pengurangan emisi karbon nasional dan komitmen Indonesia di COP28 untuk transisi energi hijau.
Tantangan dan Persiapan
Meski ambisius, proyek ini menghadapi beberapa tantangan. Pertama, pasokan scrap domestik masih terbatas sehingga diperlukan impor scrap berkualitas tinggi pada tahap awal. Kedua, harga gas alam sebagai bahan bakar DRI harus tetap kompetitif agar biaya produksi tidak kalah dengan baja impor. Ketiga, proses perizinan lingkungan dan AMDAL harus selesai tepat waktu agar konstruksi bisa dimulai Maret 2026 sesuai target.
Danantara telah membentuk tim khusus yang bekerja sama dengan Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, dan PT Krakatau Steel untuk mempercepat proses. Groundbreaking dijadwalkan akhir Februari 2026, dihadiri langsung Presiden Prabowo Subianto.
Kesimpulan
Pengumuman pembangunan pabrik baja 3 juta ton oleh Danantara pada Maret 2026 menjadi langkah strategis penting dalam hilirisasi industri nasional. Proyek ini tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru di tengah tekanan global. Dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan dan dukungan penuh pemerintah, pabrik ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dan termodern di Asia Tenggara. Keberhasilan proyek ini akan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu melompat dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama di industri baja global. Mari dukung langkah hilirisasi ini—masa depan industri baja Indonesia sedang dibangun sekarang.