Cuaca Buruk Ancam Banjir di Sumatera Selatan. Cuaca ekstrem kembali mengancam wilayah Sumatera Selatan sejak akhir Januari 2026. Hujan lebat yang hampir tanpa henti selama tiga hari terakhir telah memicu banjir di beberapa kabupaten, terutama di daerah aliran sungai besar seperti Musi, Ogan, dan Komering. Hingga pagi 30 Januari, BNPB mencatat lebih dari 15.000 jiwa terdampak, dengan ribuan rumah terendam air setinggi lutut hingga dada orang dewasa. Peringatan dini BMKG menyebut potensi hujan intensitas sedang hingga lebat masih berlangsung hingga 2 Februari mendatang, disertai angin kencang dan petir. Situasi ini mengulang pola banjir tahunan yang semakin parah akibat perubahan iklim dan kerusakan daerah aliran sungai. REVIEW FILM
Penyebab dan Pola Cuaca Ekstrem yang Mengancam banjir di Sumatera Selatan: Cuaca Buruk Ancam Banjir di Sumatera Selatan
Hujan lebat dipicu oleh pengaruh Monsun Asia yang masih aktif ditambah bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa. Curah hujan di Palembang dan sekitarnya mencapai 250–380 mm dalam 72 jam terakhir—jauh melebihi normal Januari yang sekitar 250 mm sebulan. Suhu permukaan laut yang tinggi dan kelembapan udara mencapai 90–95% membuat awan cumulonimbus berkembang masif dan menghasilkan hujan deras berkepanjangan. Daerah aliran sungai Musi dan anak-anak sungainya sudah jenuh air sejak akhir Desember 2025. Deforestasi di hulu sungai dan penyempitan sungai akibat sedimentasi mempercepat luapan air saat hujan deras. Angin kencang hingga 50–70 km/jam juga menyebabkan pohon tumbang dan tiang listrik roboh di beberapa kabupaten.
Dampak Cuaca Buruk yang Mengancam Banjir di Sumatera Selatan terhadap Masyarakat dan Infrastruktur: Cuaca Buruk Ancam Banjir di Sumatera Selatan
Banjir terparah terjadi di Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Musi Rawas Utara. Di Ogan Ilir, lebih dari 8.000 rumah terendam dengan ketinggian air 0,8–2 meter. Beberapa desa terisolasi karena jalan utama terputus dan jembatan kecil ambruk. Di Palembang, banjir rob dan luapan Sungai Musi menggenangi kawasan pinggir sungai seperti Plaju dan Kertapati dengan ketinggian hingga 1,2 meter. Total korban jiwa sementara nihil, namun lebih dari 15.000 jiwa mengungsi ke posko-posko di masjid, sekolah, dan balai desa. Listrik padam di ribuan rumah karena tiang roboh dan gardu terendam. Jaringan telepon dan internet terganggu di sebagian besar wilayah terdampak. Sawah dan kebun seluas ribuan hektare terendam, mengancam hasil panen padi dan sayur di musim tanam ini. Akses jalan nasional lintas Sumsel terputus di beberapa titik karena genangan dan longsor kecil.
Respons Pemerintah dan Rekomendasi
Gubernur Sumatera Selatan telah menyatakan status tanggap darurat bencana di enam kabupaten/kota terdampak. BNPB mengerahkan helikopter dan perahu karet untuk evakuasi serta distribusi logistik ke desa terisolasi. TNI-Polri membentuk posko gabungan di Palembang, Prabumulih, dan Kayu Agung dengan ribuan personel terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air minum, selimut, obat-obatan, dan tenda darurat sudah mulai disalurkan melalui jalur darat dan udara. BMKG memperpanjang status siaga hingga 2 Februari dengan prakiraan hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di wilayah Sumsel. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap banjir susulan dan longsor, serta hindari sungai yang masih meluap. Rekomendasi utama: pantau prakiraan cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG, siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat, dan dokumen penting, serta hindari aktivitas di daerah rawan banjir.
Kesimpulan
Cuaca buruk yang memicu banjir di Sumatera Selatan sejak akhir Januari 2026 telah merendam ribuan rumah dan memaksa lebih dari 15.000 jiwa mengungsi. Respons pemerintah dan TNI-Polri sudah berjalan cepat, namun akses ke wilayah terisolasi serta risiko banjir susulan tetap menjadi tantangan utama. Prakiraan cuaca hingga awal Februari menunjukkan potensi hujan lebat masih tinggi. Warga Sumsel diminta terus waspada dan mengikuti arahan resmi. Semoga hujan segera reda dan masyarakat terdampak bisa pulih secepatnya. Cuaca ekstrem memang ujian berat, tapi solidaritas dan kesiapsiagaan bisa meringankan beban. Tetap aman dan saling bantu!