BNPB: 34 Titik Bencana Awal 2026 di Jawa Dominan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 34 titik bencana yang terjadi sepanjang 1–29 Januari 2026, dengan mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa. Banjir, tanah longsor, dan banjir bandang mendominasi daftar, menewaskan puluhan orang, merusak ratusan rumah, serta memaksa ribuan warga mengungsi. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi wilayah paling terdampak, mencerminkan puncak musim hujan yang masih sangat aktif di awal tahun ini. REVIEW FILM
Dominasi Bencana Hidrometeorologi di Jawa: BNPB: 34 Titik Bencana Awal 2026 di Jawa Dominan
Dari 34 kejadian yang tercatat BNPB hingga akhir Januari, hampir 90% berupa banjir dan longsor yang dipicu hujan lebat berkepanjangan. Curah hujan ekstrem akibat penguatan Monsun Asia dan zona konvergensi ITCZ membuat tanah jenuh air, sehingga longsor mudah terjadi di lereng curam, sementara sungai-sungai besar meluap ke pemukiman.
Jawa Barat menyumbang titik terbanyak dengan 18 kejadian, termasuk longsor mematikan di Cisarua, Bandung Barat, yang menewaskan lebih dari 50 orang dan menimbun puluhan rumah. Banjir kiriman di Subang, Karawang, dan Bekasi merendam ribuan rumah dengan ketinggian hingga 2 meter, sementara genangan di Bekasi dan sekitar Jakarta Utara masih bertahan hingga akhir bulan. Di Jawa Tengah, 9 titik bencana tercatat, mayoritas longsor di lereng Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing, serta banjir bandang di Magelang dan Boyolali. Jawa Timur menyumbang 7 titik, dengan banjir genangan di Surabaya–Sidoarjo dan longsor di lereng Gunung Lawu serta Wilis.
Dampak Manusia dan Infrastruktur: BNPB: 34 Titik Bencana Awal 2026 di Jawa Dominan
Korban jiwa akibat 34 titik bencana ini mencapai lebih dari 70 orang, dengan mayoritas dari longsor di Jawa Barat. Ribuan rumah rusak ringan hingga berat, puluhan fasilitas umum seperti sekolah dan masjid terendam, serta ratusan hektare sawah terendam air. Lebih dari 20.000 jiwa terdampak langsung, dengan ribuan mengungsi ke posko darurat, balai desa, dan tempat ibadah.
Infrastruktur jalan dan jembatan rusak parah di beberapa titik, terutama di daerah pegunungan Jawa Tengah dan Jawa Barat, menyebabkan isolasi desa-desa selama beberapa hari. Banjir juga mengganggu distribusi logistik, membuat pasokan makanan dan obat-obatan tertunda di wilayah terpencil. Petani di pesisir utara Jawa khawatir masa tanam rendeng terganggu karena sawah masih tergenang.
Penanganan Darurat dan Upaya Mitigasi
BNPB bersama BPBD provinsi dan kabupaten, TNI-Polri, serta relawan terus melakukan evakuasi, pencarian korban, dan distribusi bantuan. Operasi modifikasi cuaca dilakukan di titik rawan untuk menekan intensitas hujan, sementara pompa air dan alat berat dikerahkan untuk penyedotan genangan di perkotaan. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan normalisasi sungai besar seperti Citarum, Ciliwung, dan Brantas, serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Jawa.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap hujan lebat lebih dari satu jam, segera evakuasi dari lereng rawan longsor, dan mengikuti peringatan dini BMKG serta BPBD. Pemerintah daerah juga diminta memperkuat edukasi mitigasi dan membersihkan saluran air dari sampah untuk mengurangi risiko genangan.
Kesimpulan
Catatan BNPB soal 34 titik bencana dominan di Jawa pada awal 2026 ini menegaskan bahwa musim hujan 2025/2026 masih berada di fase paling berisiko. Dengan puluhan korban jiwa, ribuan rumah rusak, dan puluhan ribu jiwa terdampak, situasi ini jadi pengingat urgensi mitigasi struktural dan non-struktural yang lebih serius. Reboisasi lereng, normalisasi sungai, perbaikan drainase kota, serta sistem peringatan dini yang akurat harus jadi prioritas agar bencana serupa tak lagi menelan korban besar setiap tahun. Semoga upaya penanganan cepat membuahkan hasil, korban segera terdata lengkap, dan wilayah terdampak bisa pulih secepat mungkin—tetap waspada karena Februari masih berpotensi hujan ekstrem.