Banjir Rob Parah di Pesisir Semarang. Banjir rob parah kembali melanda pesisir Semarang pada 11–12 Februari 2026, dengan ketinggian air mencapai 80–120 cm di beberapa kawasan. Fenomena pasang maksimum air laut ini bertepatan dengan fase Bulan Baru dan pengaruh angin monsun, sehingga muka air laut naik signifikan di Teluk Semarang. Genangan air asin merendam ratusan rumah warga, jalan protokol, dan kawasan industri kecil di Kecamatan Semarang Utara, Semarang Barat, serta Genuk. BPBD Kota Semarang mencatat lebih dari 1.200 kepala keluarga terdampak, dengan akses jalan utama seperti Jalan Brigjen Sudiarto dan Jalan Pandanaran sempat terendam hingga lutut orang dewasa. Meski tidak ada korban jiwa dilaporkan, banjir rob kali ini termasuk yang terparah dalam dua tahun terakhir, memperburuk krisis rob tahunan di kota yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut. BERITA TERKINI
Penyebab dan Kondisi Cuaca yang Memicu: Banjir Rob Parah di Pesisir Semarang
Banjir rob di Semarang dipicu oleh kombinasi fenomena astronomi dan cuaca regional. Fase Bulan Baru pada pertengahan Februari menyebabkan pasang perigean, di mana jarak bulan ke bumi relatif dekat sehingga gaya tarik gravitasi lebih kuat. Ditambah pengaruh angin monsun barat yang mendorong massa air ke pesisir utara Jawa, tinggi muka air laut di Pelabuhan Tanjung Emas mencapai puncak 1,8–2,1 meter di atas datum pasang rata-rata. BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas melaporkan bahwa pasang tinggi ini berlangsung dari pagi hingga sore, dengan durasi genangan hingga 6–8 jam setiap harinya.
Kondisi tanah yang sudah jenuh akibat hujan lebat sebelumnya sejak awal Februari membuat drainase kota tidak mampu mengalirkan air laut yang masuk melalui sungai kecil dan saluran primer. Sistem polder di beberapa kawasan seperti Tambak Lorok dan Tanah Mas juga mengalami kelebihan beban, sehingga pompa air tidak cukup mengimbangi debit pasang. Angin kencang dari arah utara-barat laut dengan kecepatan 20–35 knot turut mempercepat intrusi air asin ke daratan, memperparah genangan di permukiman padat.
Dampak terhadap Warga dan Upaya Penanganan: Banjir Rob Parah di Pesisir Semarang
Genangan air asin merendam ratusan rumah di Kampung Nelayan Tambak Lorok, Kampung Melayu, dan kawasan sekitar Pelabuhan. Air setinggi 80–120 cm membuat warga harus mengungsi ke lantai atas atau tempat penampungan sementara di masjid dan balai RW. Beberapa sekolah dasar dan PAUD terpaksa diliburkan karena ruang kelas terendam, sementara akses jalan menuju kawasan industri kecil di Genuk dan Semarang Utara terganggu, menghambat distribusi barang dan aktivitas ekonomi.
BPBD Kota Semarang bersama Tagana, PMI, dan relawan langsung mendirikan posko darurat di beberapa titik, mendistribusikan makanan siap saji, air minum, selimut, dan obat-obatan. Pompa air portabel dikerahkan untuk mengurangi genangan di kawasan rendah, sementara petugas membersihkan sampah dan lumpur yang menyumbat saluran. Pemerintah kota juga membuka dapur umum dan menyediakan tempat penampungan sementara bagi warga yang rumahnya tidak layak huni akibat air asin yang merusak fondasi dan perabotan. Gubernur Jawa Tengah menginstruksikan percepatan bantuan logistik dari provinsi, termasuk genset untuk mendukung pompa dan penerangan darurat.
Warga pesisir mengeluhkan bahwa banjir rob semakin sering dan parah setiap tahun, terutama sejak 2020. Banyak rumah semi-permanen yang sudah rusak parah karena korosi air asin, sementara rencana relokasi atau tanggul raksasa masih berjalan lambat.
Kesimpulan
Banjir rob parah di pesisir Semarang pada Februari 2026 menjadi pengingat bahwa kota ini terus berjuang melawan kenaikan muka air laut dan subsidence tanah yang mencapai 6–10 cm per tahun. Meski respons cepat dari BPBD dan pemerintah daerah sudah terlihat, solusi jangka panjang seperti tanggul laut terpadu, normalisasi sungai, dan relokasi bertahap tetap menjadi kebutuhan mendesak. Di tengah prakiraan pasang tinggi masih berlanjut hingga akhir Februari, masyarakat pesisir Semarang perlu tetap waspada dan mengikuti arahan evakuasi jika genangan memburuk. Prestasi penanganan darurat memang patut diapresiasi, tapi tanpa percepatan infrastruktur adaptasi iklim, banjir rob akan terus menjadi ancaman rutin yang menguras energi dan ekonomi warga. Semoga upaya kolektif bisa segera membawa perubahan nyata bagi pesisir Semarang yang sudah lama bertahan di garis depan perubahan iklim.