Banjir Jakarta: 39 RT Tergenang, Warga Terdampak. Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak Kamis malam hingga Jumat pagi, 31 Januari 2026, kembali menyebabkan banjir di berbagai wilayah ibu kota. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan 39 RT di 11 kelurahan tersebar di lima wilayah kota terendam air setinggi 30–180 cm. Ribuan warga terdampak, ratusan rumah terendam, dan beberapa ruas jalan utama lumpuh. Curah hujan mencapai 150–220 mm dalam 12 jam terakhir menjadi pemicu utama, ditambah luapan Kali Item, Kali Grogol, dan Sungai Pesanggrahan yang meluap di beberapa titik. Banjir kali ini mengingatkan bahwa meski sudah memasuki akhir Januari, ancaman genangan masih sangat nyata di Jakarta. REVIEW WISATA
Wilayah Terdampak dan Ketinggian Air: Banjir Jakarta: 39 RT Tergenang, Warga Terdampak
Banjir paling parah terjadi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Di Jakarta Barat, Kecamatan Cengkareng dan Kalideres menjadi pusat genangan dengan 18 RT terendam. Kelurahan Kapuk, Duri Kosambi, dan Pegadungan mencatat ketinggian air hingga 180 cm di beberapa titik. Di Jakarta Utara, Kelurahan Pluit, Penjaringan, dan Kamal Muara juga terdampak parah akibat rob dan luapan Kali Item. Jakarta Selatan mencatat 9 RT tergenang di Pancoran dan Tebet, sementara Jakarta Timur dan Jakarta Pusat masing-masing 6 dan 5 RT terendam.
Beberapa ruas jalan protokol seperti Jalan Daan Mogot, Jalan Kyai Tapa, dan Jalan Letjen S. Parman lumpuh total selama beberapa jam. Akses ke Bandara Soekarno-Hatta sempat terganggu karena genangan di sekitar pintu tol Cengkareng. Di kawasan permukiman padat seperti Kampung Melayu dan Bidara Cina, air masuk hingga lantai satu rumah warga, memaksa puluhan keluarga mengungsi sementara ke musala dan balai warga terdekat.
Penyebab dan Respons Penanganan: Banjir Jakarta: 39 RT Tergenang, Warga Terdampak
Curah hujan ekstrem yang tidak merata menjadi faktor utama. Data BMKG mencatat intensitas hujan tertinggi terjadi di wilayah Jakarta Barat dan Utara pada dini hari. Sistem drainase yang tersumbat sampah, sedimentasi sungai, dan kapasitas pompa yang belum optimal memperparah situasi. Beberapa pompa di Waduk Pluit dan Ancol sempat mati sesaat akibat genangan listrik, meski akhirnya berhasil dihidupkan kembali.
Pemprov DKI Jakarta langsung menggerakkan 1.200 personel gabungan dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), Dinas Bina Marga, dan relawan untuk evakuasi warga serta penyedotan air. Sebanyak 45 unit pompa mobile dan 12 perahu karet dikerahkan. Posko bantuan didirikan di kelurahan-kelurahan terdampak dengan distribusi logistik berupa makanan siap saji, air minum, selimut, dan obat-obatan. Dinas Kesehatan DKI juga menyiagakan tim medis untuk mencegah penyakit pasca-banjir seperti diare dan infeksi kulit.
Gubernur DKI Jakarta menyatakan status siaga banjir diperpanjang hingga Minggu pagi sambil meminta warga tetap waspada terhadap potensi hujan susulan. Normalisasi sungai dan pengerukan drainase terus dipercepat, meski banyak warga mengeluhkan bahwa solusi jangka panjang masih terasa lambat.
Kesimpulan
Banjir yang menggenangi 39 RT di Jakarta pagi ini sekali lagi menegaskan bahwa ibu kota masih sangat rentan terhadap hujan ekstrem meski berbagai proyek pengendalian banjir telah berjalan. Ribuan warga terdampak harus menghadapi genangan, kerusakan rumah, dan gangguan aktivitas sehari-hari, sementara penanganan darurat terus berlangsung dengan cepat. Pemerintah daerah memang responsif dalam evakuasi dan distribusi bantuan, tapi tuntutan masyarakat tetap sama: solusi permanen berupa normalisasi sungai yang tuntas, drainase kota yang bersih, dan pengelolaan sampah yang lebih baik. Banjir bukan lagi urusan musiman semata—ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Tanpa langkah besar dan konsisten, genangan seperti ini akan terus berulang setiap kali hujan deras datang. Semoga air segera surut dan warga bisa kembali ke rumah masing-masing dengan aman.